Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pendidikan

SMA Negeri 2 Sukatani Gelar Giat Pesantren Ekologi Ramadan

1453
×

SMA Negeri 2 Sukatani Gelar Giat Pesantren Ekologi Ramadan

Sebarkan artikel ini
Keterangan Foto: SMA Negeri 2 Sukatani menggelar kegiatan pesantren ekologi ramadha 1447 H tahun pelajaran 2025 - 2026 yang dimulai sejak 23 febuari sampai 4 maret 2026.

Kabupaten Bekasi || Potretpublik – Sekolah Menengah Atas (SMA Negeri 2 Sukatani) menyelenggarakan Pesantren Ekologi Ramadan 1447 Hijriah Tahun Pelajaran 2025–2026 yang berlangsung sejak 23 Februari hingga 4 Maret 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis spiritualitas dan kepedulian lingkungan selama bulan suci Ramadan.

Kepala SMAN 2 Sukatani, Agus Saprudin, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk mengintegrasikan nilai ibadah dengan aksi nyata menjaga lingkungan. “Pesantren Ekologi ini kami hadirkan agar siswa memahami bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah dan wujud tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan harian dimulai pukul 06.30 WIB dengan sholat sunah Dhuha dan dzikir pagi, dilanjutkan tadarus Al-Qur’an serta Poe Ibu sebagai pembiasaan karakter di bulan Ramadan. Setelah itu, siswa mengikuti materi inti Pesantren Ekologi sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar reguler.

“Pembiasaan ibadah di pagi hari menjadi pondasi utama. Kami ingin membentuk karakter siswa yang kuat secara spiritual sebelum mereka menerima materi akademik,” jelas Agus.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa materi Pesantren Ekologi meliputi Tadabur Alam (Niti Harti), Pendalaman Ekologi dalam Al-Qur’an (Niti Bukti), Kajian Ayat Ekologi, hingga Niti Bakti berupa aksi penanaman pohon dan gerakan hemat energi. Kegiatan tersebut juga dilengkapi dengan presentasi kelompok, Rantang Kanyaah, serta Gerakan Wakaf Al-Qur’an.

Baca Juga :  LSM Badar Akan Laporkan Dugaan Pungli di SMAN 1 Cikpus

“Kami menggabungkan kajian ayat-ayat Al-Qur’an dengan aksi nyata seperti penanaman pohon dan hemat energi. Anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari nilai rahmatan lil ‘alamin,” tegasnya.

Program ini juga merupakan implementasi Pancawaluya Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang berbasis kearifan lokal budaya Sunda. Lima pilar Pancawaluya yakni cager, bageur, bener, pinter, dan singer diharapkan menjadi fondasi pembentukan manusia waluya atau manusia paripurna.

“Kami ingin melahirkan generasi yang sehat lahir batin, jujur, cerdas, dan terampil. Pesantren Ekologi menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan itu,” tambah Agus.

Sementara itu, Pengawas PAI Dr. Yuni Asdhiani menilai kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan di SMAN 2 Sukatani sebagai langkah inovatif dalam penguatan pendidikan agama yang kontekstual. Ia menyebut integrasi antara spiritualitas dan kepedulian lingkungan sebagai pendekatan yang relevan dengan tantangan zaman.

“Kegiatan ini sangat baik karena mengajarkan siswa bahwa agama tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga tanggung jawab sosial dan ekologis,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemkab Bekasi Edukasi Siswa SMAN 2 Cikarang Pusat tentang Pola Makan B2SA

Ia menjelaskan bahwa pendekatan ekoteologi yang diterapkan sekolah sejalan dengan program Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran tersebut sejak dini.

“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Ketika siswa memahami ini, mereka akan tumbuh dengan kesadaran spiritual dan kepedulian sosial yang seimbang,” kata Dr. Yuni.

Lebih lanjut, ia mengapresiasi sistem pembiasaan yang diterapkan sejak pagi hingga siang hari, termasuk pelaksanaan KAROMAH atau kegiatan amaliyah Ramadan di rumah. Menurutnya, kesinambungan antara sekolah dan keluarga menjadi kunci keberhasilan pembinaan karakter.

“Program ini tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut di rumah. Sinergi inilah yang akan memperkuat pembentukan akhlak siswa,” ungkapnya.

Dr. Yuni berharap Pesantren Ekologi Ramadan dapat menjadi praktik baik yang menginspirasi sekolah lain dalam mengembangkan pendidikan agama berbasis aksi nyata. Ia optimistis program tersebut mampu melahirkan generasi yang berkarakter dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menjadi budaya sekolah. Spiritualitas yang kuat harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap bumi,” pungkasnya. (Lkmn/Red)